Berikut ini salah satu tokoh yang merumuskan naskah proklamasi adalah

Sebutkan tokoh-tokoh penyusun teks proklamasi kemerdekaan Indonesia? Jelaskan makna proklamasi kemerdekaan? /Tangkap layar Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas 6 SD MI Tema 2 Persatuan dalam Perbedaan Edi

PORTAL PURWOKERTO – Proklamasi kemerdekaan yang dilakukan pada 17 Agustus 1945 merupakan sebuah peristiwa penting bagi bangsa Indonesia.

Peristiwa yang dianggap sebagai tonggak sejarah bangsa Indonesia atas kemerdekaan dari perjuangan melawan penjajah asing.

Berawal dari dijatuhkannya bom atom oleh tentara Amerika Serikat pada tanggal 6 Agustus 1945 di Kota Hiroshima dan pada tanggal 9 Agustus 1945 di Kota Nagasaki.

Baca Juga: Jelaskan Apa yang Dimaksud Dengan Potensi Lestari, Berapa Potensi Lestari Perikanan Laut yang Bisa Ditangkap?

Jepang akhirnya menyerah kepada tentara sekutu, peristiwa tersebut menjadi kesempatan Indonesia untuk segera membebaskan diri dari penjajahan bangsa Jepang.

>

Teks proklamasi ditulis di rumah Laksamana Tadashi Maeda, di Jl Imam Bonjol No. 1. Para penyusun teks proklamasi tersebut adalah Ir Soekarno, Drs Moh Hatta, dan Mr Achmad Soebardjo.

Konsep awal teks proklamasi ditulis sendiri oleh Ir. Soekarno, pada saat itu hadir pula B M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Sudiro.

Baca Juga: Percobaan Matahari, Energi Panas Pada Percobaan Tisu, Sapu Tangan dan Kertas, KunciJawaban Tema 2 Kelas 4 SD

Sukarni lalu mengusulkan agar Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta menandatangani teks proklamasi tersebut, atas nama bangsa Indonesia.

Karena tak sabar, para pemuda menculik Soekarno-Hatta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekembalinya dari Dallat, Vietnam, Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta didesak oleh para pemuda pejuang agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya, Soekarno dan Hatta ingin lebih dahulu merundingkan masalah proklamasi kemerdekaan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI]. Namun, para pemuda yang tidak sabar menanti itu justru menekan agar kemerdekaan segera diproklamirkan.

Pada dini hari pada 16 Agustus 1945, para pemuda itu menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdenglok. Tetapi mereka kemudian diantar kembali ke Jakarta pada sore harinya.

Di malam harinya, Soekarno-Hatta berkumpul dengan para anggota PPKI dan para pemimpin pemuda. Mereka bermusyawarah untuk mewujudkan proklamasi kemerdekaan.

Mengutip buku berjudul Hukum Tata Negara Indonesia oleh Fajlurrahman Jurdi, perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu berlangsung pada dini hari pukul 02.00-04.00 pada 17 Agustus 1945. Bertempat di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta, mereka bermusyawarah tentang teks proklamasi.

Para tokoh yang menyusun teks proklamasi tersebut ialah Ir Soekarno, Drs Mohammad Hatta, dan Mr Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Soekarno sendiri. Sementara itu, di ruang lain hadir BM Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro.

Setelah rampung disusun, semua pihak yang hadir sepakat menyetujui isi konsep naskah tersebut. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi adalah Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Sementara itu, teks proklamasi tersebut diketik oleh Sayuti Melik. Naskah itulah yang kemudian menjadi naskah proklamasi kemerdekaan yang autentik.

Selanjutnya, pada pagi harinya pada Jumat, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir beberapa tokoh di antaranya Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Selain itu, datang pula tokoh-tokoh masyarakat dan sekitar seribu orang rakyat yang ingin menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia tersebut.

Pada pukul 10.00, Soekarno mulai membacakan teks proklamasi kemerdekaan dan kemudian disambung pidato singkat tanpa teks. Seusai memproklamirkan kemerdekaan, bendera merah putih yang dijahit oleh Fatmawati dikibarkan.

Naskah konsep teks proklamasi ditunjukkan saat penyerahan sementara dokumen naskah konsep teks proklamasi dari ANRI ke Istana Negara di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia [ANRI], Jakarta, Minggu [16/8/2020]. Dalam rangka memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan RI, naskah konsep teks proklamasi tulisan Bung Karno yang disimpan di ANRI akan turut dihadirkan pada upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2020. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

TRIBUNNEWS.COM - Peristiwa Proklamasi yang dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 ini telah membawa perubahan yang besar bagi bangsa Indonesia.

Pembacaan teks proklamasi ini diselenggarakan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta [yang sekarang menjadi Jalan Proklamasi Nomor 1].

Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, para pemimpin beserta rakyat Indonesia bersama-sama terus berjuang membenahi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berikut ini tokoh dibalik perumusan Teks Proklamasi, lengkap beserta proses perumusan dan pembacaan Teks Proklamasi:

Baca juga: Perbedaan Naskah Proklamasi Klad dan Autentik, Terdapat Perubahan Penulisan

Baca juga: Proses Perumusan Teks Proklamasi, Mulai dari Kekalahan Jepang hingga Pengetikan Teks

Tokoh dibalik Perumusan Teks Proklamasi

Tiga tokoh nasional yang menyusun teks proklamasi yakni, Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebarjo.

Soekarno yang menulis naskah proklamasi.

Sementara, Moh. Hatta dan Achmad Soebarjo yang menyumbangkan ide secara lisan.

Kalimat pertama merupakan buah pemikiran Achmad Soebarjo, sedangkan kalimat terakhir ide dari Moh. Hatta.

Ir. Soekarno saat sambutan dan membacakan teks proklamasi. Mikrofon yang dipakai di depannya memiliki sejarah tersendiri. [IPPHOS/FRANS MENDOER]

Perumusan Teks Proklamasi

Lewat proklamasi, kemerdekaan Indonesia dinyatakan. Teksnya dengan ringkas dan lugas menyampaikan gagasan tentang kemerdekaan ini. Selain Soekarno dan Hatta, ada beberapa tokoh lain yang terlibat dalam perumusan teks proklamasi.

Teks proklamasi dirumuskan secara intens sejak 16 Agustus, sampai baru selesai pada 17 Agustus pukul 06.00. Teks itu dibacakan Soekarno dengan khidmat dan tegas di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Pada perumusan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda, seperti dituliskan Hatta dalam catatan otobiografinya Untuk Negeriku, yang hadir dalam adalah ia sendiri, Soekarno, Subardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik. Inilah kisah singkat tentang tokoh perumusan teks proklamasi.

1. Soekarno

Presiden pertama Republik Indonesia ini adalah salah satu perumus naskah proklamasi. Sekembalinya ke Jakarta dari Rengasdengklok, Soekarno dan sejumlah pemuda lain berkumpul di rumah Laksamana Maeda. Gagasan tentang kemerdekaan sudah meletup-letup di kepala mereka. Semalam suntuk Soekarno dan yang lain menuangkan gagasan pikiran itu dalam beberapa baris kalimat. Sukarno yang mencatat naskah asli itu dengan didiktekan Hatta.

Setelah naskah proklamasi selesai, Soekarno dan Hatta menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia. Soekarno pulalah yang, di tengah demam tinggi yang sedang menyerangnya lantaran gejala malaria dan kelelahan, membacakan teks proklamasi itu di depan sekitar seribu orang yang hadir di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

2. Mohammad Hatta

Kelima orang yang berkumpul di rumah Laksamana Maeda waktu itu berpikir keras bagaimana gagasan tentang kemerdekaan disampaikan dengan singkat dan bernas. Setelah tim itu jelas tentang apa yang mau diungkapkan, Hatta dipersilakan Soekarno untuk merumuskannya. Menurut Soekarno, Hatta paling mumpuni kemampuan berbahasanya untuk menyusun teks ringkas itu.

Hatta berpikir sejenak, lalu meminta Soekarno mencatat apa yang diucapkannya. Di atas buku catatan sederhana dengan pena yang ia lupa dari mana, Soekarno menuliskannya. Hatta mengatakan, kalimat pertama tentang pernyataan kemerdekaan Indonesia belum cukup maka ia menambahkan keterangan soal penyerahan kekuasaan Jepang ke tangan Indonesia.

3. Sayuti Melik

Naskah proklamasi yang telah disepakati lantas diserahkan ke Sayuti Melik untuk diketik. Namun, di rumah Laksamana Maeda itu, ternyata hanya ada mesin tik berhuruf kanji, tidak ada yang berhuruf latin.

Satzuki Mishima, asisten Laksamana Maeda, bergegas naik jipnya menuju kantor perwakilan militer Angkatan Laut Jerman untuk meminjam mesin tik. Dengan mesin itulah akhirnya naskah proklamasi diketik.

Ketika mengetiknya, Sayuti, yang pernah sekolah guru dan paham soal ejaan, mengubah sejumlah kata-kata dari naskah asli yang ditulis Soekarno di kertas. Perubahan tersebut yaitu “tempoh” menjadi “tempo, “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “atas nama bangsa Indonesia” dengan menambahkan “Soekarno-Hatta” di belakangnya, juga “Djakarta, 17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17, boelan 8, tahoen 05”. Angka 05 itu adalah singkatan dari 2605, tahun showa dalam kalender Jepang yang sama dengan 1945 dalam kalender Masehi.

4. Sukarni

Sejak awal Sukarni terlibat dalam tim inti yang merumuskan naskah proklamasi. Setelah naskah selesai, Hatta mengusulkan semua orang yang hadir di rumah Laksamana Maeda itu menandatangai teks tersebut, seperti halnya pada Deklarasi Kemerdekaan AS. Hal ini menimbulkan pertentangan. Sukarni berteriak, mereka yang tidak menyumbang sedikit pun terhadap persiapan naskah proklamasi tidak berhak menandatangani.

Lantas ia mengusulkan, Soekarno dan Hatta sajalah yang menandatangani atas nama bangsa Indonesia. Tidak ada yang keberatan dengan usulan itu. Di atas piano di samping tangga rumah Maeda, naskah itu ditandatangani.

5. Ahmad Subardjo

Kita ingat, Soekarno dan Hatta sempat diculik ke Rengasdengklok oleh para pemuda pada 16 Agustus. Mereka ini ingin meyakinkan Soekarno dan Hatta agar kemerdekaan Indonesia dinyatakan sendiri, tidak menunggu diberi oleh Jepang.

Setelah Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok, Ahmad Subardjo-lah yang meyakinkan para pemuda bahwa aman bagi Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Subardjo ikut merumuskan naskah proklamasi.

Meski begitu, Subardjo sendiri tidak hadir pada pembacaan naskah proklamasi itu. Sepulang dari rumah Laksamana Maeda, para perumus kembali ke rumahnya masing-masing. Pembacaan teks proklamasi dijadwalkan pukul 10 di rumah Soekarno.

Sampai hampir tiba waktunya pembacaan, Subardjo belum tampak juga. Beberapa orang diutus untuk menjemputnya di rumah. Kala itu ternyata Soebardjo masih tidur. Tidak tampak dari gerak-geriknya, ia hendak bergegas. Ia meminta utusan itu untuk menunggu sebentar sementara Subardjo masuk ke rumah. Ia keluar dengan membawa surat untuk Soekarno dan Hatta, menyatakan pembacaan naskah proklamasi dilangsungkan saja tanpa kehadirannya. Ia masih kelelahan dan berencana melanjutkan tidurnya lagi. Ia kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI yang pertama.

Baca juga:

Mengenal Mendur Bersaudara, Fotografer yang Mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan RI

Mengenal 5 Pahlawan Wanita Indonesia

Kisah Bung Tomo, Sang Pengobar Semangat Pertempuran Surabaya

Tags : featuredHattakemerdekaan RISoekarnoSukarnoteks proklamasi

Video yang berhubungan